Kata
Said Nursi dalam risalah cahaya nya, ini lah musuh kita :
- kebodohan,
- kemiskinan, dan
- perpecahan.
Dan
terhadap musuh-musuh seperti itulah umat Islam harus berjihad dengan senjata
ilmu pengetahuan, sains, dan kerja keras.
Kebodohan
yang paling utama :
Jika
engkau menginginkan musuh, cukup hawa nafsumu menjadi musuhmu, ini juga bisa
dianalogikan, dengan :
Jika
musuh utama kita kebodohan, maka lawanlah diri sendiri atas kemalasan mencari
ilmu.
Dengan
niat untuk menghilangkan kebodohan diri sendiri dan juga orang sekitar, bukan
niat untuk mencari harta ataupun membodohi orang.
Solusi
: kesiapan guru dan murid
Kemiskinan
awal dan solusinya :
Pada
dasarnya Allah memberi rezeki semua mahluknya, dengan caraNya. Setiap orang
bisa memperoleh rezeki Allah tersebut jika ikhtiar buruk manusia tidak ikut
campur, tidak sampai mengorbankan agamanya, serta tidak menggadaikan kehormatan
dan harga dirinya
Apabila
berlebihan dalam pikiran manusia dan budayanya, timbullah keinginan diluar
rezeki Allah, sehingga menjadi penyebab kemiskinan. Orang yang mengejar rezeki
jenis majazi ini akan terbelenggu oleh kebutuhan yang tidak penting di mana
kemudian berubah menjadi kebutuhan pokok baginya akibat penyakit taklid (sikap
meniru orang lain).
Oleh
karena itu diperhatikan Hadis Rosul SAW kita “Tidak akan jatuh miskin orang
yang berhemat,” (HR Ahmad 4269).
Dan
apabila manusia tidak memperoleh kecukupan ilmu untuk berkehidupan, hal ini
wajib diusahakan oleh para cendekia di lingkungannya. Perhatikan pengajarannya
dan kemandirian sebagai hasilnya dimasa depan.
Solusi
: Hemat, Ilmu yang membuka wawasan
Perpecahan : Terjadi ketika person menjadi mangsa egoisme, cenderung pada penyakit ambisi, kehilangan ketulusan, dan membuka pintu bagi kemunafikan.
Contoh
:
Ketika
terjadi pembandingan diri dengan orang lain. Orang yang bodoh akan mencari
pembenaran untuk menafikan apapun yang bersifat perbaikan yang tidak
dikuasainya. Orang yang pintar, akan mendengki orang pintar lainnya jika mereka
memiliki apa yang tidak dipunyainya. Kecemburuan lahir, dan menghambat dirinya
sendiri untuk maju.
Ketika
niat kita sendiri, rentan terdistorsi oleh kebanggaan diri, ingatlah “‘Ridho
Tuhan diraih hanya dengan ketulusan hati,’ dan bukan dengan banyaknya pengikut
atau kesuksesan besar,” demikian kata
Said Nursi, dan itu sudah cukup.
Solusi
: tulusnya hati menerima perbedaan dan kelebihan, karena porsi cahaya Nya ada
di semua mahlukNya tidak peduli lokasinya

Komentar
Posting Komentar