Ilusi Romansa Dunia

Setelah berkeluarga, diiringi tubuh yang semakin melayu, sejenak saya memperhatikan dan menjalani kehidupan dengan beberapa konflik pemikiran.

Beberapa yang membuat saya kurang menghayati peran di dunia sebagai pelayan Allah adalah saya mendapat asupan yang tidak realistis dari berbagai bacaan yang notabene tidak dibuat oleh hamba Allah yang paham. Diantara yang dapat merusak ini, yang sudah saya buktikan sendiri adalah kisah kisah romansa.

Dalam hal ini romansa adalah rasa ketertarikan semata. Yang kemudian dibumbui dengan hiperbola bacaan dan media layar yang bertubi tubi. Namun ini tidak sesuai kenyataan yang ada, dimana semua ingin menjadi bahagia dan bahagia mengharuskan pengorbanan dari lawannya. Dalam islam didapati perbedaan peran antara lelaki dan wanita. Dan perannya sudah bisa dipahami. Namun di dunia modern ini, peran tersebut ambigu. 

Walaupun dapat kita jalani sehari hari, fungsi fungsi yang ambigu tersebut, mengharuskan kita mengganti seluruh isi kepala romansa dengan pelayanan prima, dan dedikasi. Pada dasarnya romansa dibutuhkan sedikit di awal, dan diubah menjadi kewajiban dan dedikasi dalam perjalanannya. Bacaan kita tidak mendidik seperti itu. Bahwa setelah menikah hidup akan bahagia lebih aman, semua tertangani, itu tidak benar. Perubahan drastis membuat seseorang mengelus dada dalam fikirnya setiap berinteraksi dalam keluarga, dan inilah yang membuat seorang bapak dan ibu menjadi kurang asyik dimata anak anaknya.

Akhirnya kenyataan yang tidak sesuai ini dapat membuat keraguan dan ketidakmampuan manusia untuk memilih untuk berkeluarga. Hal ini dapat terlihat terjadi di negara maju. Negara-negara maju terbukti mengalami depopulasi. Dikarenakan mereka tahu berkeluarga adalah hal yang memberatkan, sedangkan mereka ingin menjadi ringan dan dilayani dalam setiap kesehariannya. Sekarang malah didunia maju, uang tdk punya daya pikat, yang dicari lebih dr itu, yaitu status.

Hal ini juga diperparah dengan pola pendidikan yang secara sekilas adalah proses disuapi pengetahuan. Tidak adanya inovasi dan geliat untuk mencari cara lebih sustainable dan aman karena sudah terlanjur nyaman, mengakibatkan dunia ini rusak.Terbiasa disuapi dan meneruskan saja.

Saya hanya mengingatkan, ekspektasi janganlah berlebihan.Lindungi diri dari budaya sebelum islam dan yang menjerumuskan. Ingat kata kata ini : 


Seseorang tidak akan bersedia menjadi pelayan untuk orang lain. 

Seorang yang lemah akan butuh dilayani, seorang yang kuat akan bisa melayani.

Untuk itu fokuslah pada Allah, bergeraklah untuk Allah, jadilah kuat, jalani keluarga dengan harapan mendapat pahala di akhir nanti. Ketika semua sudah menjadi baik, dikampung dimana tidak ada kata yang tersia-sia, dan kita dapat memiliki pelayan pelayan yang menyejukkan mata nanti, InshaAllah kita dapat menghela nafas dan mengikhlaskan ketidakmampuan kita dimasa itu. Aaamiiin.



Komentar